Latar Belakang
“ Katakanlah : Hai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri,
janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.
Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.
Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. “
( QS. Az Zumar : 53 )
Ini adalah kisah Ajeng. Pemudi yang tumbuh dalam kondisi biasa, di keluarga biasa, di tengah masyarakat Muslim biasa. Kehidupan yang biasa ini ia jalani hingga usia remaja, saat mulai mengenal cara melakukan kenakalan-kenakalan yang tidak biasa. Cara berfikirnya yang biasa membuatnya tak peduli, dia terus meminum limbah dosa dan maksiat. Dan di tengah masyarakat biasa, hal itu masih dianggap biasa !
Lalu, pada satu putaran masa remajanya, ia merasa bahwa kenakalannya telah melewati batas. Di tengah kegelapan, ia menoleh ke kiri dan ke kanan. Namun yang terlihat hanya kegelapan, hanya maksiat dan dosa di mana-mana. Setelah mengerjakan berbagai kenistaan, Ajeng merasa kondisi tubuhnya tak biasa. Ia merasa penuh noda, kerak-keraknya tebal di sekujur tubuh. Tubuhnya mulai lemah dan mudah sakit. Dan ia heran, mengapa hatinya selalu murung ?
Karena Ajeng, pemudi biasa yang dididik orangtuanya secara biasa, maka ia menyikapi perubahan itu dengan berdiam diri saja. Orangtuanya bahkan berkata, “ Besok semua ini hilang. Allah pasti akan membuat segalanya menjadi baik kembali. Ini tidak berbahaya, tidak perlu dipusingkan. Kita lebih baik dari orang lain. Cobalah resep ini, bermain 1 jam untuk menghibur diri dan beribadahlah 1 jam untuk menyenangkan Tuhan. Allah itu Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Setiap pemudi pasti mengalami hal ini. “
Begitulah contoh biasa dari pendidikan di rumah-rumah kaum Muslim biasa.
Pada suatu momen yang tidak biasa, setelah pesta heboh bersama teman-temannya, Ajeng memilih pulang jalan kaki sendirian. Bagai orang linglung, ia berjalan tak tentu arah. Sesungguhnya ia sedang mencari-cari sesuatu, tapi tak dapat membayangkannya. Ingin menangis tapi tak kuasa. Ingin menemukan orang yang mau mendengarkan keluh kesahnya, tapi tak tahu siapa. Ia ingin ada yang merangkul dan memeluknya, melindunginya dari binatang-binatang buas di dalam dan di sekitar dirinya.
Ia bertekad untuk tidak pulang ke rumah. Ia terus berjalan hingga mendengar suara adzan. Hatinya tergetar dan seluruh tubuhnya bergetar hebat sampai-sampai ia takut jika terjatuh. Maka ia berlari. Sekonyong-konyong ia bertabrakan dengan seseorang sehingga mereka berdua jatuh. Ajeng bangun dan mengulurkan tangannya yang gemetaran untuk menolong orang yang ditabraknya. Dia ingin meminta maaf tapi lidahnya kelu. Ketika orang itu yang ternyata seorang ibu-ibu bisa berdiri, mereka saling pandang. Di dalam hati mereka terbersit berbagai pikiran dan dugaan.
Ajeng berkata dalam hatinya, “ Siapakah dia ? Cahaya apakah yang kulihat di wajahnya ? Apa ini bidadari dari Surga ? Dia sangat harum… Bajunya sangat indah.. “
Sedangkan Ibu itu membisikkan ta’awudz lalu berkata di dalam hatinya, “ Siapa ini ? Orang atau setan ? Baunya sangat menusuk… Mengapa ia berpakaian tapi seperti telanjang ? “
Saking terkejut dan bingung, ibu itu mundur satu langkah seperti hendak melarikan diri.
Ajeng akhirnya mengenali ibu itu yang ternyata Ustadzah Hasanah. Namun ketika Ajeng ditanya siapa dirinya dan mau ke mana, ia menjadi bingung. Dia mulai meracau, “ Siapa aku ? Ya, siapa aku ? Aku tak tahu siapa diriku ! Aku mau ke mana ? Aku tidak tahu, sungguh aku tak tahu. “
Dia seolah-olah mendapatkan apa yang selama ini dicarinya di dalam kedua pertanyaan tersebut : Siapa aku ? Mau ke mana aku ? Sehingga ia terus mengulang-ngulangnya. Ustadzah Hasanah jadi kasihan padanya dan ingin mengajaknya ke Masjid. Tapi Ajeng berkata tak bisa. Ustadzah lalu berkata, “ Minta tolonglah pada Allah. Kamu pasti bisa. “
Ajeng menerima uluran tangan Ustadzah Hasanah, tiba-tiba di matanya muncul semua kenakalan-kenakalan yang pernah dibuatnya. Ia merasa dirinya tak pantas menyentuh tangan suci tersebut apalagi memasuki rumah suci. Ia menarik tangannya dengan kasar lalu berlari ke kegelapan sambil berteriak, “ Aku tidak bisa. Aku tidak bisa. “
Ajeng berlari ke rumah bagai orang kesetanan, lalu masuk kamar dan menutup wajahnya dengan bantal. Ajeng menangis. Dia terus meratap sambil mengingat kejadian tadi. Semua bagai selarik cahaya yang menyinari kegelapan hidupnya. Dia terus bertanya-tanya di dalam hati, mengapa tidak mengikuti ajakan Ustadzah Hasanah ? Tapi ada bisikan, pantaskah aku ? Mampukah aku berubah ? Aku ingin, tapi bagaimana caranya ? Konflik batin itu terus terjadi.
Esoknya, ia bersikap tidak sebagaimana biasanya di hadapan teman-temannya. Padahal mereka sedang berpesta seperti biasa di tempat biasa, memesan makanan dan tertawa-tawa seperti biasanya. Ajeng terus termenung dan teringat pada wajah Ustadzah Hasanah. Setiap kali menoleh, ia dikejutkan oleh gambaran ibu itu yang mengulurkan tangan padanya sambil berkata, “ Minta tolonglah pada Allah. Kamu pasti bisa. “
Berkali-kali hal itu terjadi, sekonyong-konyong ia berdiri dan berkata, “ Aku mau pergi “. Setan-setan dalam rupa manusia di sekitarnya terkejut dan berusaha menahannya. Namun ia tetap pergi dari sana dan pulang ke rumah. Ibunya yang telah patah arang menjadi heran dan menanyakan sikapnya yang tak biasa. Di luar dugaan, Ajeng memeluk ibunya. Ia menangis lalu berkata, “ Benar. Aku akan mengubah apa yang Ibu sebut biasa itu. “
Ajeng lalu mandi, lama sekali. Seolah-olah baru pertama kali ia mandi di sepanjang hidupnya. Ia menggosok kotoran dan kerak-kerak dosa yang menempel dan bertumpuk bertahun-tahun di tubuhnya. Namun ia merasa tidak bisa bersih. Ia terus mandi sambil membaca tasyahud, istighfar dan bacaan-bacaan yang masih samar-samar diingatnya ketika mengaji saat kecil. Ia menengadahkan kepala sambil berharap rahmat turun dari langit.
Usai mandi, ia berwudhu. Lalu memakai baju muslim dan selendang di kepalanya karena belum merasa siap mengenakan jilbab. Sebelum adzan ashar, Ajeng telah berangkat ke masjid diiringi tatapan haru ibunya. Ajeng berdiri di pintu masjid sambil menunggu Ustadzah Hasanah, ia tidak berani masuk sedirian. Ketika dilihatnya sosok tersebut, ia menghambur ke arah Ustadzah Hasanah dan memeluknya. Sambil menangis, ia berkata, “ Ustadzah, doakan saya. “
Awalnya Ustadzah Hasanah pangling. Dan ketika ia yakin gadis di hadapannya adalah Ajeng, ia sangat gembira dengan perubahan penampilan dan melihat cahaya harapan di mata Ajeng. Beliau berkata, “ Engkau telah menjawab panggilan Allah Yang Maha Penyayang. Allah mengatakan : Jika engkau mencintai Kami,Kamu pun mencintaimu. Jika engkau melawan kami, Kamu member waktu padamu. Jika engkau meninggalkan Kami, maka Kami pun meninggalkan engkau. Tapi, jika engkau kembali kepada Kami, maka Kami pasti menerima dirimu. “
Lalu Ajeng masuk masjid, menunaikan shalat berjamaah. Kebahagiaan memenuhi rongga dadanya seolah-olah akan meledak. Alangkah bernilai shalat itu, pertama kali dalam hidupnya ia merasakan kehidupan yang sejati. Ia merasa tidak sedang berada di bumi, melainkan di Taman Surgawi. Ia menikmati setiap gerakan dan bacaan shalat, seolah-olah tak ingin semua itu berakhir begitu cepat. Dan ketika shalat selesai, ia hanya mampu menghela nafas panjang. Ia menyesal mengapa dari dulu ia tak merasakan kedamaian seperti ini. Ia hanya mampu bergumam, “ Ya Allah, jangan Kau tinggalkan aku. Jangan Kau telantarkan aku. Ambil aku, bawa aku ke sisi-Mu. “
Setelah wirid dan berdoa, Ajeng mendekati Ustadzah Hasanah dan bertanya, “ Ustadzah, mungkinkah saya berubah ? Bisakah saya menjadi sholihah ? Apa perubahan ini akan mudah bagi saya ? Akankah pintu taubat terbuka untuk saya ? Apakah Allah akan menolong saya ? Dapatkah saya meninggalkan maksiat ? Dapatkah saya teguh dalam ketaatan ? Bisakah saya suci ? “
Seribu satu tanya terlontar dari mulutnya dan Ustadzah Hasanah terus mengangguk-anggukkan kepala sembari tersenyum mengiyakan. Setiap anggukan, senyuman dan kata iya yang didengarnya seolah-olah menjadi satu sumber cahaya, menghancurkan kegelapan di hatinya. “ Jadi bagaimana saya memulainya ? Apa yang harus saya lakukan sekarang, Ustadzah ? “. Beliau menjawab, “ Bacalah dzikir bersama saya. Lalu, kita belajar Al Qur’an. “ . Ajeng menerima nasehat tersebut. Di rumahnya yang biasa, kini ia menjadi ‘luar biasa’.
Beberapa tahun kemudian, Ajeng telah berubah roman dan penampilannya. Mengenakan jilbab, rajin ke pengajian, rajin menemani Ustadzah Hasanah mengisi kajian. Namun, ia menyadari ada semacam kesalahan yang terjadi pada dirinya. Terutama ketika ia melihat sarana-sarana kemaksiatan yang semakin canggih, ia tergoda. Ia cemas karena mendapati hatinya ternyata masih merindukan maksiat dan dosa-dosa itu. Setelah melewati tahun-tahun komitmen pada Islam, anehnya masa-masa jenuh masih datang dan pergi. Kadang lama, kadang sebentar. Melakukan maksiat, besar atau kecil.
Yang lebih merisaukannya, hal itu terjadi setelah ia jatuh cinta pada agama dan menghendaki kebaikan. Ia takut terjerumus lagi. Ajeng menyadari, meskipun ia telah mengubah penampilan, ternyata limbah yang pernah diminumnya di masa lalu masih menggelapkan hatinya. Itulah kerak-kerak dosa yang belum sempat benar-benar dibersihkan. Dan ia semakin menyadari, bahwa ia butuh bantuan untuk menghapus kerak-kerak tersebut dari dirinya. Sesegera mungkin.
Akankah Ajeng mampu mempertahankan komitmennya terhadap agama ?
Bagaimana caranya menyelamatkan diri dari bahaya yang menerpa ?
Ikuti terus kisahnya …..

0 komentar:
Poskan Komentar